Cerita Hot Dewasa - Membaur Di Kampung (Part 1)

Cerita Hot Dewasa - Membaur Di Kampung. Petualanganku di dunia birahi sudah malang melintang. Dimana pun lokasi syur di Jakarta sudah pernah ku datangi. Ada satu tempat favoritku di daerah Jakarta Timur. Tempat itu memang untuk kelas bawah, tapi aku menemukan keunikan tersendiri di situ. Ceweknya banyak yang muda-muda dan masih polos seperti orang desa. Dandanannya pun masih seperti di kampungnya.

Aku akhirnya punya langganan, namanya Katem, tapi lalu kuganti namanya jadi Ami. Jadi aku panggil dia Ami. Dia akhirnya terbiasa. Suatu hari dia bercerita ingin pulang kampung. Aku menawarkan diri mengantarnya sampai ke rumahnya. Dia dengan senangnya menyambut tawaranku. Kami akhirnya janjian untuk berangkat bersama.
CeritaHD - Membaur Di Kampung
Kami janjian ketemu di halte mikrolet di dekat pasar. Dari situ kami menuju Pulo Gadung untuk mengambil bus jurusan Cirebon.

Baru sekali itu aku naik bus dari Pulo Gadung dan bersama cewek. Sorry aku lupa menggambarkan bagaimana profil Mia. Usianya sekitar 15 tahun, mukanya manis, kulitnya agak gelap tingginya sekitar 155 cm. Rambut lurus sebahu. Bicara kurang lancar berbahasa Indonesia, dia sekolah sampai kelas 4 SD.

Sekitar 3 jam setengah akhirnya kami sampai di pemberhentian sebelum kota Indramayu. Sebut saja KS, kami menyeberang jalan, dan di situ sudah ada puluhan ojek. Mia menyebut nama kampungnya dan kami menyewa 2 ojek dengan ongkos masing-masing 20 ribu. Rupanya tempatnya jauh juga masuk kedalam.

Di kampung-kampung Indramayu dan Karawang, cukup banyak orang tua yang menganjurkan anaknya jadi pelacur. Jadi mereka sama sekali tidak keberatan ketika anaknya punya tamu. Bagi ortunya tamu itu adalah rejeki dan ini masuk area bisnis jadinya. "anak nginep disini aja, pulang ke jakarta besoklah, ngapain buru-buru pulang," kata bapaknya. Jadi sebelum gue memohon sudah ditawari so ya why not kan. Lantas gue keluarin Rp 100.000 kasi langsung sama emaknya. "Mak ini buat beli makanan, nanti malam saya makan disini."

Wah itu emak langsung buru-buru pergi, pulangnya nenteng ayam hidup, lalu bapaknya suruh motong tuh ayam. Malamnya hidangannya adalah ayam goreng, sambel dan lauk berkuahnya 2 bungkus indomi direbus dengan banyak air. Yang makan berenam. Adik si cewek ada 2 soalnya. gue gak bisa makan banyak, tapi dipaksa juga. gue kurang selera, karena ayamnya masih keras dan masih bau amisnya ayam. gue telen-telenin aja, abis kepaksa. Mau makan indomienya. Biasanya dua bungkus gue makan sendiri, ini dua bungkus dimakan berenam. Wah gue jadi gak enak body.

Abis makan gue keluarin 50rb kasi ke bapaknya untuk beli rokok dan 50rb lagi gue kasi ke dia juga dengan pesen untuk keamanan.

Wekkk rumah tuh bapak akhirnya dijagain 2 hansip kampung semalaman. Buset deh, jadi raja minyak gue di kampung ini. Abis makan bukan terus tiarap, ngobrol dulu ama bokapnya ke utara-selatan. Yah bisa-bisa gue menerka minat obrolan dia. Begitu gue tau dia tertarik ama pertanian. gue keluarin jurus-jurus dewa mabok gue untuk mengimbangi percakapannya. Bukan mau sombong sih diajak ngomong soal apa aja dari mulai menanam padi sampai nuklir korea utara gue bisa njabani.

Kalo soal olah raga gue nyerah deh, gak hobi. Namanya ilmu dewa mabuk, si bapak jadi kalah ilmu ama gue, wakakakak. gue inget hari itu dia nanya-nanya nanem apa yang hasilnya lumayan. gue bilang semangka tanpa biji bagus tuh pasarnya. Dia bingung, semangka tanpa biji yang ditanam apanya. gue bilang ya biji, ada tuh bibitnya di jual kalengan cuma harganya rada mahal. "mau dong" kata bapaknya. Yah nanti deh kalo saya kemari lagi.

Ngobrol sampai jam 10 an sambil minum kopi dan makan kacang garuda. Akhirnya tuh bapak nyadar juga dan nyuruh gue istirahat. "Kamarnya udah disiapi, silahkan nak istirahat dulu". Jam 10 malam di kampung, sunyinya kayak orang tuli, mana gelap lagi. Tapi gue PD aja meski rada was-was juga, Gimana gak PD rumah dijagai 2 hansip. Kayaknya hansip kelurahan.

Was-wasnya kalau ada apa-apa gue lari kemana. gue kan gak bawa kendaraan. Oh ya gue lupa. Kalo masuk kampung pedalaman gitu dan mau nginep jangan bawa mobil, mencolok bo. Orang jadi banyak perhatiin kita. Kalo kita datang naik ojek, kita jadi membaur dan gak kelihatan mentang-mentang.

Si bapak nunjuki kamar tidur untuk gue, dan anak perempuannya udah tiduran di situ. Kamarnya cuma diterangi lampu minyak dan yang istimewa tempat tidurnya pake kelambu. buset dah seumur-umur gue baru pernah kali itu tidur pake kelambu.

Tadinya pengen malu, tapi karena bapaknya nganjurin gue tidur ama anaknya, gue jadi bingung pengen malu ama siapa wakakakakak.

Besok paginya gue rada kesiangan bangunnya, malemnya kebanyakan tiarap kali ya. eh si cewek walau udah bangun tapi dia belum keluar dari tempat tidur. Mungkin nunggu sampai gue juga bangun. Wah setia banget.

Di luar udah disiapi kopi dan nasi goreng. Wuissh raja minyak diservice abis.

gue salut ama diri gue sendiri, sebab petualangan itu gue jalani sendiri tanpa kawan. nekat abis. gue akhirnya nginep lagi semalem, mengingat dana dikantong masih mencukupi dan gue rasa aman-aman aja. Seharian di kampung gue ditemani tetangganya (laki-laki) nyewa motor muter-muter di kampung. Eh dia malah nunjuki potensi cewek di desanya. Jadi gue dikenali ama banyak cewe. Buset banget, ternyata banyak yang ok. Gilanya dia nawari perawan. Bukan satu, kalo gue nggak salah inget ada 3 semuanya dikenali ke gue.

Tetangga sebelah si Mia ini rupanya juga lagi pulang kampung. Gilanya dia kelihatan lebih muda, mungkin usianya masih 13 – 14 tahun . Aku diperkenalkan dan dia mengaku kerja (melacur) di daerah Cilincing. Tempat yang dia sebutkan itu belum pernah aku datangi.

Setelah nginap semalam aku kemudian pamit kepada orang tua si Mia. Diantar oleh tetangganya aku berangkat dari rumah Mia. Heri begitu nama tetangga Mia yang menjadi penunjuk jalan.

****

Aku bukan sungguh-sungguh pulang tapi pindah nginap di kampung yang letaknya jauh lebih ke pelosok. Tujuannya adalah rumah Nani. Anaknya manis agak tinggi sekitar 160 usianya juga masih amat belia sekitar 15 tahun. Dia termasuk stok baru, karena belum pernah dikaryakan. Kata Heri Nani baru cerai. Padahal mereka belum genap 3 bulan kawin. Seperti diceritakan Heri, orang-orang di kampung itu banyak yang kawin singkat hanya untuk mengejar status janda. Dengan status janda, dia bisa punya KTP dan bisa kerja ke kota.

Rumah Nani tidak begitu besar, berdinding separuh tembok separuh bambu anyaman (gedek). Kami disambut seorang wanita usianya sekitar 32 tahun, dia adalah ibunya Nani.

"Mari mas masuk," katanya mempersilahkan kami.

Aku memilih duduk di bale-bale (amben) bambu di teras rumahnya. Sementara itu Heri masuk bersama ibunya Nani, sepertinya ada yang mereka rembukkan.

"Dari mana mas," tanya ibu si Nani.

"Jakarta," jawabku singkat.

Maknya si Nani ini kelihatan akrab sekali, sedangkan aku masih rada kikuk. Aku merasa malu karena niatku akan menginap di rumah itu, kayaknya vulgar banget. Tapi Bu Karta begitu dia mengenalkan namanyam dia pintar sekali mencairkan suasana, dan dia sudah tau betul niatku .

"Mas tunggu sebentar ya, si Nani lagi mandi", katanya.

Kami mengobrol macam-macam sampai aku tahu bahwa Bu Karta ini juga janda dengan 2 anak. Anak yang pertama laki-laki sekarang kerja di Jakarta. Jadi mereka hanya tinggal berdua.

"Masnya jadikan menginap di sini," tanya Bu Karta.

"Kalau ibu boleh, ya saya mau," kataku.

"Ya boleh lah mas, hotel dari sini jauh, tapi disini rumah kampung, nggak ada listrik, rumahnya juga jelek, nggak kayak rumah di Jakarta, gedongan semua," katanya merendah.

Heri memberi kode agar aku ikuti dia. Heri memberi aku, bahwa semuanya oke dan ada juga uang keamanan. Dia mau pamit, dan aku minta dia datang lagi besok jam 10 pagi.

Heri kemudian pamit kepada mak nya Nani dan segera ngacir.

Perutku sudah rada kroncongan karena sekarang udah jam 1 siang. Kutarik 5 lembar uang 20 ribuan dan kuserahkan ke Bu Karta. "Ini bu untuk beli makanan, siang ini ibu beli indomi bangsa 5 bungkus, minyak goreng dan kalau ada sedikit tepung sagu (kanji), lainnya beliin tempe dan cabe rawit ijo juga bawang putih."

Ibunya masuk ke dalam rumah sebentar dan keluar lagi membawa secangkir kopi. Tak lama kemudian datang belanjaan. Rupanya Bu karta minta tetangganya untuk belanja, pantesan dia gak beranjak dari tadi.

"Mas tepung sagunya mau dibuat apa ya," katanya.

"Mau buat mi bu," kata ku.

"Ah jangan panggil bu ah, panggil mbak aja, kayaknya kok jadi tua banget," katanya sambil matanya genit..

"Boleh saya masak mi nya di dapur bu,"

"Eh masnya pinter masa yaa, tapi dapurnya jelek dan kotor" katanya lalu membibimbingku ke bagian belakang rumahnya.

Aku berpapasan dengan Nani yang berbalut handuk masuk dari belakang rumah. Dia malu-malu menundukkan muka, langsung masuk kamar.

Aku meminta 3 bungkus indomi untuk digoreng .

"Sini mas kita saja yang goreng," kata bu karta. Orang di Indramayu ini menyebut kita untuk aku.

Setelah mi di goreng aku minta dia merebus air dan pinjem mangkuk untuk mencampur air dengan tepung sagu. "Segini cukup gak mas airnya."

"Kurangi dikit mbak."

Setelah air menggelegak aku masukkan air campuran dengan kanji dan bumbu mi instannya. Setelah mendidih dan kuah agak mengental kuminta dipindahkan ke tempat lain. Sekarang makanannya sudah siap.

Mas kita cuma punya nasi ama ikan asin. Lalu kami pun mengelilingi meja makan yang posisinya ditempelkan ke tembok dengan 4 kursi. Aku duduk di tengah, disamping ku Nani, dan di kiriku Bu karta.

"Wah enak mi-nya mas, masnya pinter masak juga ya,"

"Ini namanya ifumi, tapi sebenarnya bumbunya lebih lengkap dari ini ada sayur, ada bakso, baso ikan, dan udang segala, tapi karena adanya ini ya begini aja lah," kata ku. "Enak ya mak, kita jadi pengin nambah mi nya lagi," kata Nani yang makan sambil duduk kakinya diangkat satu (metingkrang).

"Mas itu ada tempe mau diapain, biar kita yang ngerjain," kata mak Karta.

"Digoreng aja biasa mbak," kata ku.

Dia lalu menghilang ke belakang tinggal aku dan Nani di ruang yang rada gelap. Kami ngobrol dan aku mengorek banyak informasi. Katanya dia sudah ditawari kerja ke Jakarta, Tapi maknya belum ngasih karena sendirian di rumah. Gak terasa sudah jam 4 sore, cuaca mulai teduh.

Bersambung .. Cerita Hot Dewasa - Membaur Di Kampung (Part 2)

0 Response to " Cerita Hot Dewasa - Membaur Di Kampung (Part 1) "

Posting Komentar

Populer Hari ini

POPULER MINGGU INI

Diberdayakan oleh Blogger.